Menjaga yang Tidak Bisa Digantikan.
Education park, pengembangan tanaman endemik, pelestarian flora-fauna, keanekaragaman hayati, dan arah pusat penelitian.
Di Patengan, hutan bukan sekadar bentang alam. Ia menjadi bagian dari ruang hidup masyarakat. Melalui Persetujuan HKm seluas ±276 hektare, KTH Sasaka Patengan menata pengelolaan kawasan agar kelestarian hutan berjalan seiring dengan penguatan usaha dan kehidupan anggota.
Ruang kelola Sasaka dibaca sebagai satu bentang yang menyeimbangkan fungsi konservasi, jasa lingkungan, dan agroforestri. Pembagian ini menjadi kerangka kerja untuk menjaga hutan sekaligus memperkuat manfaat bagi masyarakat.
Education park, pengembangan tanaman endemik, pelestarian flora-fauna, keanekaragaman hayati, dan arah pusat penelitian.
Kawasan tematik, camping ground, rest area, kuliner, dan rencana fasilitas lain ditempatkan sebagai bagian pengembangan jasa lingkungan.
Pembibitan, kopi, buah, sayur, TOGA, silvaforestri, pemberdayaan petani, serta peningkatan kapasitas produk dan SDM.
Bagi masyarakat Patengan, hutan, kebun, dan kehidupan sehari-hari sudah lama saling terhubung. Kopi, terong, dan berbagai komoditas tumbuh melalui pola agroforestri yang dikerjakan turun-temurun.
Ketika ruang kelola menjadi lebih jelas, Sasaka melangkah lebih jauh: hasil kopi tidak hanya dipanen, tetapi mulai diolah hingga bernilai tambah; sementara potensi alam dikembangkan melalui bumi perkemahan, amenitas, dan wisata edukasi yang tetap menghormati fungsi hutan.
Tanggal 18 Oktober 2024 menjadi salah satu tonggak penting bagi Sasaka Patengan. Melalui SK.12400/MENLHK/10/2024, kelompok memperoleh Persetujuan Pengelolaan Hutan Kemasyarakatan seluas ±276 hektare.
Perjalanan itu melanjutkan pola kemitraan kehutanan yang telah dibangun sebelumnya. Dari keseluruhan ruang HKm tersebut, sekitar ±27 hektare berada pada Hutan Produksi Terbatas dalam Kawasan Hutan Dengan Pengelolaan Khusus (KHDPK).
Sejak 2019, dua Kelompok Usaha Perhutanan Sosial menjadi penggerak kegiatan ekonomi anggota: KUPS Kopi dan KUPS Wisata. Keduanya berkembang dari potensi yang memang dekat dengan kehidupan masyarakat Patengan.
KUPS Kopi menghasilkan sekitar 25 ton biji kopi per tahun. Nilai tambah dibangun sedikit demi sedikit, dari hasil kebun menuju proses sangrai, penepungan, hingga pengemasan.
±25 ton biji kopi/tahunBumi perkemahan lahir dari inisiatif anggota muda. Dengan swadaya, mereka membuka akses, menata parkir, membangun toilet dan ruang ganti, lalu memperkenalkannya melalui media sosial.
Bumi perkemahan & edukasiTALAGA COFFE menghadirkan kopi Arabika hasil kebun anggota dalam bentuk siap seduh. Produk ini dikemas 250 gram dan dipasarkan dengan harga Rp75.000 per kemasan.
Arabika · 250 gramPenguatan kelompok tidak terjadi dalam satu malam. Peralatan, pelatihan, dan bibit unggul menjadi bagian dari proses panjang untuk memperbaiki keterampilan anggota dan meningkatkan mutu usaha.
Pada 2021, BPSKL memberikan dukungan alat proses kopi senilai Rp50.000.000 untuk membantu kelompok memperkuat pengolahan hasil.
Pada 2022, anggota mengikuti pelatihan pengolahan kopi yang difasilitasi Disnaker Kabupaten Bandung.
Pada 2024, CDK 5 Provinsi Jawa Barat memberikan dukungan bibit unggul kopi untuk memperkuat budidaya anggota.
KTH Sasaka Patengan telah mencapai grading kelembagaan Platinum tingkat nasional. Bagi kelompok, capaian ini menjadi pengingat bahwa tata kelola, kekompakan anggota, dan konsistensi kerja harus terus dijaga.